Headlines News :

.

Populer

Setiap Amalan Dalam Kesulitan Terkandung Pahala Yang Sangat Besar

Sahabat Dunia Islam, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita tentang pertemuan seorang laki-laki dengan seekor anjing dalam sebuah tempat tak jauh dari sumur. Kisah perjumpaan itu dimulai ketika tenggorokan lelaki tersebut betul-betul telah kering.
Lelaki ini terus melangkah meski dahaga menyiksanya sepanjang perjalanan, hingga ia menemukan sebuah sumur, lalu terjun dan meminum air di dalamnya. Air yang mengaliri kerongkongnya cukup untuk menyembuhkan rasa haus itu. Lidahnya kembali basah, tenaganya sedikit bertambah.
Saat keluar dari lubang laki-laki ini terperanjat. Di hadapan matanya sedang berdiri seekor anjing dengan muka memelas. Napasnya kempas-kempis. Lidahnya menjulur-julur. “Anjing ini pasti mengalami dahaga sangat seperti yang telah aku derita,” kata si lelaki.
Laki-laki tersebut seperti menyadari bahwa meski haus, anjing sekarat itu tak mugkin turun ke dalam sumur karena tindakan ini bisa malah mencelakakanya. Seketika ia terjun kembali ke dalam sumur. Sepatunya ia penuhi dengan air, dan naik lagi dengan beban dan tingkat kesulitan yang bertambah. Si lelaki bahagia bisa berbagi air dengan anjing.
Apa yang selanjutnya terjadi pada lelaki itu?
Rasulullah berkata, “Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni dosa-dosanya, lantas memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasulullah! Apakah dalam diri binatang-binatang terkandung pahala-pahala kita?”
“Dalam setiap kesulitan mencari air terkandung pahala,” sahut Nabi.
Kisah di atas mengingatkan kita pada keharusan bersifat welas asih kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Tapi, bukankah anjing adalah binatang haram? Bukankah keringat dan air liurnya termasuk najis tingkat tinggi dan karenanya harus dijauhi?
Setiap Amalan Dalam Kesulitan Terkandung Pahala Yang Sangat Besar , Cerita tersebut Rasulullah justru menyadarkan kita bahwa status haram dan najis tak otomatis berbanding lurus dengan anjuran membenci, melaknat, dan menghinakan. Bukankah Rasulullah pernah berujar, “Irhamû man fil ardl yarhamkum man fis samâ’ (sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.”

Kisah Masa Kecil Rasulullah dan Ibunya

 Sahabat dunia islam, tentu kita ingin tau bagaimana kisah masa kecil Rasulullah.
Sebagaimana tradisi suku Quraisy dan kabilah Arab pada umumnya, pada hari kedelapan selepas dilahirkan oleh Siti Aminah, Muhammad kecil harus diungsikan ke pedalaman dan baru akan dikembalikan ke ibunya ketika kelak berusia delapan atau sepuluh tahun. Tentu hal ini membuat Siti Aminah gundah. Tapi, tradisi tetaplah tradisi, mau nggak mau harus tetap dilaksanakan.
Aminah pun sadar, ini penting untuk ia lakukan. Ia pun mengikhlaskan putranya untuk dikirim ke pedalaman. Lagipula ia tahu bahwa tujuan dikirimkannya supaya kemampuan berbahasa sang anak bagus—di pedalaman bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab asli, belum campuran dan bukan bahasa pasar (fush-ha)—dan bisa mencecap udara pedalaman yang bersih, tidak seperti di kota yang dianggap telah tercemar.
Di pedalaman itu, Muhammad kecil diasuh oleh Halimah bint Abi Dzuaib (Halimatus Sa’diyah) selama tiga tahun. Muhammad pun tumbuh menjadi anak yang cepat tanggap, telaten dan jujur. Ia juga kerap membantu temannya yang kesusahan dan selalu bersikap bersahaja walaupun ia terkenal memiliki kecerdasan yang luar biasa dibandingkan anak seumurannya, apalagi ia adalah keturunan salah satu suku terpandang di kabilah Arab. Hal itu membuatnya disukai banyak orang. Tak terkecuali teman sebayanya.
Suatu ketika, saat ia bermain bersama anak-anak lain, ia didatangi oleh dua orang berbaju putih. Ia pun sempat bertanya, tapi tidak dijawab. Dua orang itu berkata dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Muhammad  kecil.
Sontak, hal ini pun membuatnya ketakutan. Tak terkecuali teman-temannya. Mereka pun berlari mendatangi  rumah Halimatus Sa’diyah dan melaporkan peristiwa yang terjadi.
“Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki,” ujar salah seorang dari mereka, agak berteriak.
Halimah pun agak terkaget. Tapi, ia berusaha tetap tenang.
“Apa benar yang kau katakan?”
“Benar. Dan ia telah dibaringkan di sebuah batu, perutnya dibedah sambil dibolak-balikkan.”
Seketika itu pula wajah Halimah pucat. Ia pun berlari menuju tempat yang diceritakan itu. Tak butuh waktu lama, ia pun sampai di tempat yang diceritakan itu.
Di sana, ia melihat Muhammad yang terdiam, Halimah pun berusaha menenangkannya.
“Apa yang telah terjadi, Anakku.”
Muhammad melihat wajah Halimah. Kemudian merangkulnya. Lalu, dengan agak terbata-bata ia menjawab, ”Dua orang itu berbaju putih. Ia berusaha mengambil sesuatu dari tubuhku.”
“Apakah itu?”
“Aku tidak tahu, Ibu.”
Halimah pun merangkulnya sekali lagi. Ia pun sebenarnya ketakutan dan takut jika anak ini sedang kesurupan atau ada keanehan lain yang tidak mengerti. Untuk itu, ia bersepakat dengan keluarganya untuk mengembalikan Muhammad kecil ke Makkah.
Kelak, selepas Muhammad kecil tumbuh dewasa dan diangkat menjadi Rasul, baru ia mengerti bahwa dua orang berbaju putih itu adalah malaikat yang diutus oleh Allah subhanahu wata’ala untuk mencari dan mengangkat keburukan dalam dirinya.
*Diceritakan ulang dari biografi Sejarah Hidup Muhammad karya Mohammad Husain Haekal oleh Dedik Priyanto, alumni Pesantren Attanwir, Talun, Sumberrejo, Bojonegoro.

Kisah Musa & Khidir ‘Alaihimas Salam

Gunung Sinay
Suatu hari Musa menjadi khatib di hadapan bani Israil, lalu ia ditanya, “Siapakah orang yang paling alim?” Musa menjawab, “Saya.”
Kemudian Allah mencela Musa karena dia belum memberikan ilmu kepadanya. Allah lalu mewahyukan kepada Musa, Aku memiliki seorang hamba yang tinggal di pertemuan dua laut. Dia lebih alim danpada kamu.”
Berangkatlah Musa dengan saudaranya, Yusya’ bin Nuun. Ketika keduanya sampai di sebuah batu besar, mereka melihat seseorang yang sedang merapikan pakaiannya. Musa mengucapkan salam kepadanya dengan ucapannya, “Aku datang kepada engkau, dengan harapan engkau sudi mengajariku apa-apa yang telah diajarkan kepada engkau berupa ilmu yang benar.”
Khidir menetapkan syarat kepada Musa agar tidak bertanya tentang apa pun hingga Khidir sendiri yang akan menjelaskannya. Berlalu sebuah bahtera yang mengangkut mereka. Khidir mencopot sebuah papan kapal, namun Musa tidak setuju. Khidir lalu mengingatkan Musa akan janjinya, Musa pun meminta maaf. Keduanya lalu keluar dari bahtera. Khidir melihat seorang anak yang sedang bermain bersama anak-anak sebayanya yang lain, kemudian Khidir membunuhnya. Musa menentang apa yang dilakukan Khidir dengan lebih keras daripada penolakannya pada kejadian yang pertama, maka Khidir mengingatkan Musa akan janjinya. Musa pun terdiam dengan menahan kesedihannya. Musa berjanji bahwa dirinya bersedia —jika bertanya yang ketiga kalinya— mengakhiri kebersamaannya dengan Khidir.
Mereka masuk ke suatu kampung. Mereka meminta makanan kepada penduduk kampung itu, namun mereka menolak. Khidir melihat dinding yang miring, ia pun memperbaikinya. Musa berkata kepadanya, “Tidakkah engkau meminta upah perbaikan dinding?” Khidir menjawab, “Habislah masa kebersamaan.”
Khidir lalu menjelaskan semua kejadian yang mengundang keheranan Musa. Ia mencopot papan sebuah kapal agar tidak dirampas oleh seorang raja yang zhalim. Anak yang ia bunuh adalah seorang anak kafir, sedangkan kedua orang tuanya adalah orang mukmin. Khidir khawatir jika kecintaan keduanya kepada anaknya akan membawa keduanya kepada agama anaknya. Adapun tembok yang miring, di bawahnya terdapat harta karun berupa emas milik dua orang anak yatim. Allah hendak menjaga dan memelihara harta itu hingga keduanya menjadi dewasa.
Di dalam kisah tentang Qarun, Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Qarun memberi seorang wanita tuna susila harta dengan imbalan agar mengatakan kepada Musa Alaihissalam, ketika ia di tengah-tengah banyak orang, “Sesungguhnya engkau telah melakukan demikian terhadapku.” Wanita itu pun mengucapkan kata-kata itu kepada Musa, sehingga Musa laksana disambar petir. Ia kemudian melakukan shalat kepada Tuhannya lalu datang menghadapi wanita itu dengan mengambil sumpahnya dan bertanya, “Siapa yang menyuruhmu berbuat seperti itu? Kenapa engkau lakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Qarun yang menyuruhku berbuat itu. Setelah itu wanita tersebut beristighfar dan bertobat kepada Allah. Ketika itu Musa merebahkan diri, bersujud, dan berdoa untuk keburukan Qarun. Dan Qarun pun ditelan bumi beserta rumah dan semua hartanya.
Sebagian bani Israil berkata, “Musa tamak dengan harta Qarun.” Musa lalu berdoa, “Wahai bumi, ambilkan dia dan ambillah hartanya.” Dan bumi pun menelannya, rumahnya dan seluruh hartanya.
Imam al Bukhari berkata di dalam Shahihnya mengenai kisah wafatnya Musa ‘Alaihis Salam, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Malaikat maut diutus kepada Musa ‘Alaihissalam. Ketika dia datang, Musa menamparnya. Lalu malakul maut kembali kepada Rabb-Nya seraya berkata, “Egnaku telah mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menginginkan kematian.’ Allah berfirman kepadanya, ‘Kembalilah kepada Musa dan katakan kepadanya agar dia meletakkan tangannya di punggung sapi jantan, maka bulu sapi yang tertutup oleh tangannya itulah sisa umurnya. Satu bulu satu tahun.’ Musa berkata, ‘Wahai Tuhanku, setelah itu apa?’ Malaikat maut berkata, ‘Maut.’ Musa berkata, ‘Sekarang aku pasrah.’ Maka Musa memohon kepada Allah agar didekatkan kepada tanah suci sejauh lemparan batu. Musa wafat di Padang Tin setelah wafatnya Harun di tempat yang sama dan tidak tersisa seorang pun orang-orang yang menolak untuk masuk kedaerah orang-orang perkasa tersebut.”
Tempat Wafatnya Nabi Musa Alaihissalam, Jerico Jerussalem
Tempat Wafat Musa, Jerico Jerussalem
Nabi Harun ‘Alaihissalam
Nabi Harun 2
Nabi Harun
Sumber: Ringkasan Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka Azzam & Pustaka as Sunnah.

Nu’aim bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu: Ksatria yang Tanggap lagi Cerdik

Nu’aim bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu
“Melalui dirinya, Allah Ta’ala menolong satu pasukan penuh.”
Sesungguhnya Allah menanam untuk agama ini tanaman yang dengannya Dia memuliakan Islam di setiap zaman dan tempat.
Di antara orang-orang yang dengannya Allah menjadikan mereka bermanfaat bagi Islam adalah ksatria kita yang tanggap lagi cerdik ini, orang yang Allah anugerahi kecepatan dalam berfikir [spontanitas] dan amat cerdik.
Sesungguhnya ia adalah Nu’aim bin Mas’ud yang di masa jahiliyah memiliki hubungan yang sangat erat dengan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah dan selain mereka.
Ia biasa duduk-duduk di majelis mereka, begadang dan minum-minum bersama mereka. Sementara mereka juga sangat mencintainya dan memberikan kepercayaan penuh kepadanya.
Di waktu yang tepat sesuai dengan waktu yang Allah ta’ala takdirkan, Dia membuka pintu hati Nu’aim untuk menerima hidayah dan dien yang haq ini. Dengan begitu, Nu’aim memulai lembaran baru di hari perang Ahzab, dan mampu menggoreskan di atas kening sejarah lembaran yang tidak akan pernah dilupakan selamanya sepanjang hari dan sepanjang malam.
Sesungguhnya ia adalah lembaran yang cemerlang lagi bersinar. Allah menjadikannya sebagai sebab diselamatkannya seluruh umat terutama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
APA YANG TELAH ENGKAU PERSEMBAHKAN UNTUK DIENULLAH?
Mari merenung bersama saya wahai saudaraku yang mulia, bagaimana. Nu’aim bin Mas’ud mampu menjadi sebab dikeluarkannya [dibubarkannya] sejumlah besar orang-orang yang telah terkonsentrasi untuk menghancurkan Islam dalam perang Ahzab.
Tanyakan kepada diri anda dengan pertanyaan ini, “Apa yang telah engkau persembahkan untuk dienullah?”
Inilah Nu’aim bin Mas’ud, seorang fida-i (pelaku aksi pengorbanan diri) dan ksatria datang kepada Nabi di waktu yang demikian genting dan mencekam di mana hampir membuat jantung-jantung copot dari dada-dada pada perang Ahzab.
Kaum musyrikin telah mengepung kota Madinah dari seluruh penjuru di sekitar parit, sementara di saat-saat yang genting lagi menegangkan ini, orang-orang Yahudi Bani Quraizhah membatalkan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mereka berubah menjadi ancaman serius dari dalam yang amat berbahaya terhadap kaum wanita dan anak-anak. Mereka telah mengikat janji dengan kaum musyrikin untuk bersama-sama memerangi Muhammad. Inilah tingkah polah orang-orang Yahudi, dan inilah sifat mereka. Orang-orang Yahudi tidaklah pandai selain berkhianat dan membatalkan perjanjian.
Mereka membatalkan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di saat yang genting.
Dapat anda bayangkan bagaimana kondisi psikis yang menghinggapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para Sahabatnya. Dalam hal ini, Allah Ta’ala telah menyebutnya dengan sifat yang demikian menyentuh dan detail.
Dia berfirman:
“… Dan ketika penglihatan (kalian) terpana dan hati kalian menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam sangkaan. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami kecuali tipu daya.’” (QS. Al-Alizaab: 10-12)
Bayangkanlah kondisi tersebut! Sungguh saat itu sudah ada yang berani berkata di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami kecuali tipu daya.” Kaum musyrikin mengepung kita sementara orang-orang Yahudi membatalkan perjanjian dan akan menghancurkan kita dari dalam serta membunuh kaum wanita dan anak-anak kita!
Kondisi yang menegangkan. Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  sampai berdiri seraya bersimpuh ke hadapan Allah Ta’ala:
“Ya Allah, yang menurunkan Kitab, Yang Maha Cepat perhitungannya, hancurkanlah ahzab (kelompok-kelompok itu). Ya Allah, hancurkanlah dan guncangkanlah mereka.”[1]
Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya berada dalam kondisi takut dan tegang sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Karena demonstrasi yang ditunjukkan musuh terhadap kaum muslimin dan datangnya mereka untuk menyerang dari bagian atas dan bagian bawah [dari atas bukit maupun lembah], datanglah Nu’aim bin Mas’ud kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah masuk Islam, dan kaumku belum mengetahui keislamanku. Karena itu, perankan aku sesuai keinginanmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau di tengah kami adalah satu orang saja, maka hinakanlah musuh itu dari kami sedapat mungkin, karena perang adalah tipu daya.”
Lalu Nua’im bin Mas’ud pun berangkat hingga mendatangi Bani Quraizhah. Dulu di masa jahiliyah, ia adalah teman bagi mereka. Maka ia berkata, “Wahai Bani Quraizhah, kalian telah mengetahui rasa cintaku terhadap kalian, khususnya apa yang terjadi antara aku dan kalian.” Mereka berkata, “Engkau benar! Engkau bukan orang yang dicurigai di tengah kami.” Lalu ia berkata lagi kepada mereka, “Sesungguhnya Quraisy dan Ghathfan tidaklah seperti kalian. Negeri ini (Madinah) adalah negeri kalian, di dalamnya ada harta, anak-anak dan isteri-isteri di mana kalian tidak mampu berpindah darinya kepada yang lain. Dan sesungguhnya Quraisy dan Ghathfan telah datang untuk memerangi Muhammad dan para Sahabatnya. Kalian telah mendukung mereka melawannya, sedangkan negeri, harta dan istri-istri mereka berada di negeri selainnya (di Makkah, bukan di Madinah-penj). Mereka tidaklah seperti kalian; jika melihat kesempatan, pasti mereka akan memanfaatkannya, dan jika melihat selain itu, mereka akan pergi ke negeri mereka dan membiarkan kalian dan laki-laki itu (Muhammad,) di negeri kalian. Jika laki-laki itu sendirian melawan kalian, niscaya kalian tidak akan mampu melawannya. Karena itu, janganlah berperang bersama kaum itu hingga kalian menjadikan salah seorang tokoh mereka sebagai jaminan sehingga kalian menjadi percaya bahwa kalian berperang melawan Muhammad bersama mereka hingga kalian dapat mengalahkannya.” Mereka berkata kepadanya, “Engkau telah memberikan pendapat yang tepat.”
Kemudian ia (Nu’aim) pergi dari sisi mereka hingga mendatangi kaum Quraisy. Ia berkata kepada Abu Sufyan bin Harb dan tokoh-tokoh Quraisy yang hadir bersamanya: “Kalian telah mengenal betapa aku mencintai kalian dan memusuhi Muhammad. Sesungguhnya telah sampai kepadaku satu masalah yang menurut pendapatku sudah sewajibnya aku menyampaikannya kepada kalian sebagai nasehat untuk kalian. Karena itu rahasiakanlah hal ini dariku.”
Mereka berkata, “Akan kami lakukan.”
Ia berkata, “Tentu kalian sudah tahu bahwa orang-orang Yahudi menyesali apa yang telah mereka perbuat terhadap perjanjian mereka dengan Muhammad, dan mereka telah mengirimkan surat dengan menyatakan, ‘Kami telah menyesali apa yang telah kami lakukan. Apakah kalian setuju apabila kami mengambil untuk kalian para tokoh terkemuka dari kedua suku; Quraisy dan Gathfan, lalu kami menyerahkan mereka kepada kalian, lalu kami memenggal leher mereka, kemudian kami bersama orang-orang yang hidup di antara mereka akan bersama kalian hingga kita dapat melawan mereka semua?’ Lalu dia (Muhammad) mengirimkan surat lagi kepada mereka dengan jawaban, ‘Ya, kami setuju.” Lalu Nu’aim melanjutkan, “Jika .orang-orang Yahudi [Bani Quraizhah] mengirim utusan kepada kalian untuk meminta beberapa jaminan dari orang-orang kalian, maka janganlah kalian menyerahkan seorang pun kepada mereka.”
Kemudian ia pergi lagi hingga mendatangi suku Ghathfan. Ia berkata: “Wahai orang-orang Ghathfan, sesungguhnya kalian adalah keluarga dan margaku serta manusia yang paling aku cintai. Aku tidak melihat kalian menuduhku (curiga terhadapku).”
Mereka berkata, “Engkau benar! Engkau bukan orang yang dicurigai di tengah kami.”
la berkata, “Simpanlah rahasia ini dariku.”
Mereka berkata, “Kami akan lakukan. Apa gerangan masalahmu?” Lalu ia mengatakan kepada mereka seperti apa yang telah dikatakannya kepada Quraisy, dan memperingatkan dengan apa yang ia peringatkan kepada mereka.
Merupakan suatu tadbir (pengaturan) dari Allah kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin untuk mengeluarkan mereka dari cobaan itu di mana Abu Sufyan dan pimpinan suku Ghathfan mengirim utusan kepada Bani Quraizhah. Utusan itu adalah ‘Ikrimah bin Abi Jahal beserta perwakilan dari Quraisy dan Ghathfan. Hal itu terjadi pada malam Sabtu, bulan Syawwal tahun 5 H. Maka mereka (Bani Quraizhah) berkata kepada mereka (para utusan), “Sesungguhnya kami tidak berada di tempat tinggal [bukan di negeri kami sendiri], unta-unta dan kuda-kuda telah binasa. Maka pergilah berperang hingga kita dapat melawan Muhammad dan menyelesaikan masalah antara kita dan dirinya! Mereka menjawab dengan mengatakan, “Sesungguhnya hari ini adalah hari Sabtu, Ini adalah hari di mana kami tidak melakukan sesuatu pun. Sebagian orang kami telah melakukan suatu perbuatan terlarang, lalu mereka mengalami apa yang sudah tidak menjadi rahasia lagi bagi kalian. Sekalipun demikian, kami bukanlah orang-orang yang akan memerangi Muhammad bersama kalian hingga kalian memberikan kepada kami jaminan dari para tokoh kalian yang berada di tangan kami sebagai jaminan kepercayaan bagi kami hingga kita melawan Muhammad. Sebab sesungguhnya kami khawatir jika perang menewaskan kalian dan pertempuran demikian berat bagi kalian, kemudian kalian kembali dengan cepat ke negeri kalian dan meninggalkan kami sementara orang itu (yakni, Muhammad) berada di negeri kami di mana kami tidak mampu melawannya.”
Setelah para utusan kembali kepada Quraisy dan Ghathfan membawa apa yang dikatakan Bani Quraizhah, berkatalah mereka (Quraisy dan Ghathfan), “Demi Allah, sesungguhnya apa yang dikatakan Nua’im bin Mas’ud kepada kalian itu memang benar. Maka kirimlah utusan kepada Bani Quraizhah dengan pernyataan, ‘Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan seorang pun dari para tokoh kami kepada kalian. Jika kalian ingin berperang, maka keluarlah, lalu berperanglah!’”
Maka tatkala utusan itu sampai, Bani Quraizhah membalas, “Sesungguhnya apa yang diceritakan Nu’aim tentang kalian memang benar. Orang-orang itu hanya ingin berperang; jika melihat ada kesempatan, mereka akan memanfaatkannya. Dan jika mendapatkan selain itu, mereka akan kembali dengan cepat ke negeri mereka dan membiarkan kami sementara orang itu (Muhammad berada di negeri kami.” Lalu mereka mengirim utusan kepada Quraisy dan Ghathfan dengan mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan memerangi Muhammad bersama kalian hingga kalian memberikan kepada kami jaminan.” Namun mereka menolaknya.
Akhirnya, Allah Ta’ala menurunkan kehinaan di tengah sesama mereka. Mereka akhirnya tidak memiliki kemauan untuk berperang. Lalu Allah mengirimkan kepada mereka angin kencang di malam-malam musim dingin yang teramat sangat. Angin itu menerbangkan periuk-periuk mereka dan memporak-porandakan perkemahan mereka.[2]
Setelah hari itu, Nu’aim bin Mas’ud terus menjadi orang yang dipercaya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyerahkan kepadanya beberapa pekerjaan, mengajaknya bangkit mengatasi segala beban dan membawa sejumlah panji di hadapannya.
Di hari penaklukan kota Makkah, Abu Sufyan bin Harb berdiri menyaksikan pasukan kaum muslimin, lalu ia melihat seorang laki-laki yang membawa panji Ghathfan. Maka ia berkata kepada orang yang bersamanya, “Siapa ini?”
Mereka menjawab, “Itu adalah Nu’aim bin Mas’ud.”
Ia berkata, “Sungguh buruk apa yang diperbuatnya terhadap kita di hari Khandaq. Dahulu ia termasuk orang yang paling bermusuhan terhadap Muhammad, sekarang ia membawa panji kaumnya di depannya dan berlalu untuk memerangi kita di bawah panjinya.”[3]
Nu’aim benar-benar antusias dan bersemangat dalam membayar lunas setiap kesempatan yang sudah lewat (tali usianya semasa masih musyrik untuk kemudian menggantinya dengan beberapa hari, beberapa bulan bahkan bertahun-tahun dalam ketaatan kepada Allah dan bekerja untuk menolong agama-Nya serta meninggikan kalimat-Nya.
Ia masih terus dengan kebiasaannya itu hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Dan ia pun sangat sedih atas hal itu, bahkan sempat ia berangan-angan ,untuk menebus Nabi dengan jiwa, harta dan seluruh apa yang ia miliki.
Sepeninggal Nabi, Nu’aim bin Mas’ud tidak pernah bakhil menyumbangkan tenaga, harta dan jiwanya dalam mengabdi kepada lslam. Ia senantiasa melanjutkan perjalanan sumbangsih dan kerja kerasnya dalam mengabdi kepada agama yang agung ini sepanjang masa Khilafah Rasyidah di bawah pimpinan Abu Bakar. Demikian juga sepanjang masa kekhilafahan ‘Umar dan ‘Utsman Hingga datanglah saat yang menentukan di mana ia akan bertemu dengan Rabb-nya yang memberikan balasan kepadanya atas setiap apa yang telah ia lakukan dalam mengabdi kepada Islam dan mengobati lukanya di dalam Surga-Nya dan pelabuhan rahmat-Nya, di mana di sana terdapat kenikmatan yang abadi. Juga untuk dapat berdampingan  dengan al-Habib dan para Sahabatnya di Surga ar-Rahman dengan bersaudara di atas dipan-dipan yang saling berhadap-hadapan. Kemudian kenikmatan menjadi sempurna dengan nikmat memandang wajah Allah Yang Mahamulia.
Nu’aim terbunuh di awal kekhilafahan ‘Ali sebelum datang ke Bashrah dalam peristiwa perang Jamal. Ada yang mengatakan, ia wafat pada masa kekhilafahan ‘Utsman . Wallaahu a’lam.[4]
Semoga Allah Ta’ala meridhai Nu’aim bin Mas’ud dan para Sahabat seluruhnya.
Note:
[1] HR.Bukhari VI/109-110, Kitab Al-Maghaazi dan HR.Muslim No.1742, Kitab Al Jihaad
[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d [II/69] dan ath-Thabari dalain Tarikhnya [III/ 578-579], serta Ibnu Katsir dalam al-Bidaayah wan Nihaayah [IV/III], juga Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baari [VII/402].
[3] Shuwar min Hayaatish Shahabah, DR. ‘Abdurrahman Ra’fat al-Basya (hal. 423).
[4] Al-Ishaabah karya Ibnu Hajar [VI/363]
Sumber: Disalin dari Buku ‘Shahabat-Shahabat Rasulullah, Syaikh Mahmud Al Mishri, Jilid 1. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir

Kisah Rahib (Pendeta) Buhaira & Hikmah Yang Bisa Dipetik

Buhaira 02
Kisah Rahib (Pendeta) Buhaira
Kitab-kitab sirah menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala telah berusia tujuh belas tahun, dia pergi ke Syam bersama pamannya Abu Thalib untuk melakukan perdagangan.
Diriwayatkan oleh Sunan At Tirmidzi dari Abu Musa Al Asy’ari dia berkata, “Abu Thalib pergi ke Syam dengan diikuti oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dengan tokoh-tokoh Quraisy dan setelah mendekati seorang pendeta, mereka beristirahat, kemudian membiarkan kendaraan mereka mencari kehidupannya. Kemudian pendeta itu keluar menemui mereka, sementara selama ini dia tidak pernah sekali pun menghiraukan kafilah perdagangan itu. Pendeta itu menelusuri tempat mereka berteduh, hingga menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memegang tangannya. Pendeta tersebut berkata, “Inilah Tuan Manusia, Inilah Rasul alam semesta, Dia diutus oleh Allah sebagai pembawa rahmat Alam semesta.”
Foto Peninggalan Biara Buhaira
Buhaira 01
Pemuka Quraisy berkata kepada, “Apa dasar kamu, wahai Buhaira?” Dia berkata, “Waktu kamu meninggalkan Aqabah, maka tidak ada batu dan pohon kecuali semuanya bersujud kepadanya dan mereka berdua itu tidak pernah bersujud, kecuali untuk seorang Nabi dan saya megenalnya dengan tanda kenabian di bawah pundaknya seperti buah apel.” Kemudian pendeta tersebut pulang dan membuatkan makanan untuk orang Quraisy.
Sewaktu mereka mendatangi undangannya, Nabi berada di antara unta-unta. Buhaira berkata, “Panggil dia bersama kalian, kemudian dia datang dan awan telah menaunginya.” Setelah mendekat ke kaum, ternyata naungan pohon itu telah melindungi tokoh Quraisy dan tatkala Nabi duduk, tidak-tiba teduh pohon itu beralih ke Rasulullah. Buhaira berkata, “Lihatlah bagaimana teduh pohon itu beralih menaunginya.”
Kemudian dia berpesan agar tidak membawa Muhammad ke Romawi, karena kalau mereka melihat Muhammad, maka mereka pasti mengenalinya dan akan membunuhnya.
Kemudian tiba-tiba ada tujuh orang yang datang dari Romawi, Buhaira menemuinya dan berkata, “Apa yang menyebabkan kalian datang?” mereka berkata, “Kami datang karena pada bulan ini, ada seorang Nabi yang telah melakukan perjalanan dan tidak ada jalan, kecuali telah ditelusuri dan kami telah mendapatkan informasi bahwa dia melintasi jalan kamu itu’.
Buhaira Monk
Buhaira berkata, “Bagaimana pendapat kalian, jika Allah berkehendak atas sesuatu, adakah seorang dari umat manusia ini yang mampu untuk menahannya?” mereka berkata, “Tidak mungkin.” Buhaira berkata, “Kalau begitu baiatlah dia.” Mereka membaiatnya dan kemudian bertanya, “Siapakah walinya?” Mereka berkata, “Abu Thalib.” Abu Thalib senantiasa berusaha hingga dia mengambil kembali Muhammad dan mengutus bersamanya Abu Bakar dan Bilal, dan pendeta Buhaira membekalinya dengan kue dan minyak.” [1]
Jalan Menuju Kolam Buhaira
Pada kisah Buhaira diatas terdapat bukti bahwa Ahlul Kitab mengetahui sifat dan zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan diutus[Lihat DR Mahdi Rizkullah, As Sirah An Nabawiyyah hal.12], pengingkaran mereka terhadap risalah adalah atas dasat ilmu pengetahuan bukan atas dasar kebodohan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
‘Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkat itu.’ [QS.Al Baqarah:89]
Pada kisah Buhaira terdapat kesaksian Ahlul Kitab terhadap Ahlul Kitab, bahkan kesaksian seorang ulama dari Ahlul Kitab tentang kebenaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesaksian terhadap orang-orang Nashrani bahwa mereka akan memusuhi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagian Nashrani berkomentar tentang pertemuan Buhaira dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata, “Apa yang dikatakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah diangkat menjadi Nabi adalah dari pengajaran Buhaira’, kalau memang demikian maka patut dikatakan kepada mereka, ‘Kenapa kalian tidak menerima pernyataannya yang mengatakan tentang kebatilah akidah trinitas, penghapusan dosa dan penyaliban, doktrin yang dibawakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pendeta itu?
Kenapa orang-orang Nashrani pada hari ini tidak menerima pernyataan dari sesepuh mereka tentang kebatilan akidah mereka sebagaimana yang difirmakan oleh Allah ta’ala:
‘Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam.” [QS.Al Maidah:72]
Dan juga firmannya:
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa.” [QS.Al-Maidah:73]
Kalau memang pernyataan tersebut dari Buhaira, maka kenapa kalian tidak menerima?” [2]
Foot Note:
[1] Tirmidzi dalam sunannya, dishahihkan oleh Al-Bani, lihat Al-Bani, Shahih Sunan At Tirmidzi 3/191. Dia berkata, ‘Tetapi menyebut nama Bilal dalam riwayat itu adalah sebuah kemungkaran sebagaimana kata orang.’
[2] Lihat catatan kaki buku ,’Rahmatan Lil ‘Alamin, tulisan Qadhi Muhammad Sulaiman Al Manshurfuri, 1/34
[3] Keterangan foto: Biara ini terletak di Busra, Kota di Negeri Hauran ,di Negeri Syam. Bushra atau Bushra asy-Syam adalah kota administrasi Damaskus dan merupakan ibukota distrik Hawran. Kota ini berlokasi di selatan Suriah. Peninggalan sejarah yang terkenal dari kota ini adalah gedung teater Romawi, biara pendeta Bahira, dan Mabrak an-Naqah (tempat menderum unta).
Sumber: Fikih Sirah, Prof.Dr.Zaid bin Abdul Karim az-Zaid, Penerbit Darussunnah
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Translate

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Salam Dunia Islam - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger